The Lee [Sequel of You and I] Oneshot

The Lee [Sequel of You and I] Storyline by: ainayanf|

Main Cast: IU a.k.a Lee Jieun with Lee Hyunwoo|

Genre: romance, fluff|

Length: Oneshot|

~~

—–

The Lee [Sequel of You and I] Storyline by: ainayanf|

Main Cast: IU a.k.a Lee Jieun with Lee Hyunwoo|

Genre: romance, friendship|

Length: Oneshot|

 

—–

Seorang gadis kini sedang duduk di sebuah ayunan yang menyimpan banyak sekali kenangan. Kenangan dengannya. Ia mendongakkan kepalanya, menahan agar bulir-bulir air mata yang sudah berada di pelupuk matanya tidak jatuh.

Gadis itu, Lee Jieun. Ia sedang merindukannya, sangat-sangat merindukannya malah. Kenapa orang itu harus pergi? Walau hanya sementara. Setidaknya, walaupun Ia tidak bisa memilikinya, mereka tetap bisa bersahabat seperti dulu kan?

Seseorang memanggilnya dengan suara khasnya. “Jieun-ah!”. Sontak Jieun membalikkan badannya. Orang itu kini telah duduk di ayunan yang berada di samping ayunan yang dinaiki Jieun.

Orang itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putih dan rapihnya. “Wae? Raut wajahmu terlihat tidak menyenangkan.”

anio, nan gwaenchanha.” Jieun menggelengkan kepalanya.

“Jieun, jelas ketahuan jika kau berbohong. Terlihat dari raut wajahmu itu,” orang itu menjentikkan telunjuk kanannya di hadapan Jieun. “aku tahu, kau sedang tidak baik. Mari ikut denganku,” Orang itu memberi isyarat pada Jieun untuk mengikutinya.

“memang mau kemana?” Jieun belum beranjak dari ayunannya.

“sudahlah, ikut saja!,” orang itu kini menarik tangan Jieun, lalu berjalan keluar dari taman.

 

—–

Orang itu, Lee Hyunwoo. Laki-laki bermodel rambut mangkuk, satu kampus dengan Jieun, pandai beraegyo, dan idaman banyak mahasiswi.

Tempat yang dimaksud oleh Hyunwoo adalah Kedai ice cream. Sebuah senyum tipis terulas di bibir cherry Jieun. Hyunwoo langsung tersenyum lebar, lalu dengan tetap menggandeng tangan Jieun, Mereka memasuki Kedai ice cream itu.

“kau pesan apa Jieun-ah?”

“eum, terserah kau saja. Aku suka semuanya,”

Geurae, tunggu sebentar aku pesankan dulu,” Hyunwoo beranjak dari kursinya menuju sebuah bar tempat pemesanan ice cream.

—–

Kamsahamnida,” kata Jieun dan Hyunwoo serempak ketika ice cream pesanan mereka datang.

“aku memesankanmu.. vanilla with cookies ice cream tidak apa-apa kan?”

gwaenchanha,”

Hyunwoo mencolek ice creamnya, matanya berkilat jenaka. Ia hampir memasukkan colekan ice cream itu ke mulutnya. Namun, tidak jadi, ia malah mencolekkannya pada hidung Jieun.

Yaa! Kau Lee Hyunwoo,” Jieun mengerucutkan bibirnya.

Hyunwoo hanya ‘nyengir’ lalu, memeletkan lidahnya.

Jieun tidak tinggal diam, Ia juga mencolekkan ice creamnya di pipi Hyunwoo. “chupta! Rasakan ini! Hyaa~”

“Tunggu saja pembalasanku, ige!”

neo jinjja! Jangan curang!!”

—–

Sedikit demi sedikit kehadiran Hyunwoo di dekatnya membuat segenap perasaan yang tidak boleh Ia rasakan pada Kai meluap. Hyunwoo sebenarnya tidak terlalu mengetahui kronologisnya. Yang Ia tahu, Jieun sedang didera masalah dan harus membagi masalahnya itu pada orang lain. Akhirnya, Hyunwoo berusaha menjadi orang yang dibagi masalahnya itu. Ia berusaha menjadi orang yang selalu membuat Jieun tersenyum lebar.

Menurut teman Jieun, Jieun murung karena sahabat akrabnya sedang pergi dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Hyunwoo-ya, kenapa melamun?”

anio, hehe, wae?”

“temani aku ke Haagen Dazs, mau crème brulée,” pinta Jieun dengan menujukkan puppy eyesnya.

“kan benar! Kau jadi ketagihan ke Haagen Dazs, siapa dulu yang mengajak?”

nde, kau yang mengajakku,”

“Rayu aku dulu, baru aku akan menemanimu ke Haagen Dazs,”

aigoo, neo jinjja!

“ya sudah, kalau tidak mau, aku tidak akan menamanimu,” Hyunwoo pura-pura mempoutkan bibirnya.

Aigoo, Hyunwoo-ya yang baik hati, temani aku ke Haagen Dazs ne? jebal!” letak Haagen Dazs dari Kampusnya dan Hyunwoo cukup jauh, makanya Ia meminta Hyunwoo—–satu-satunya yang mengertinya untuk mengantar Jieun ke Haagen Dazs.

“okay, tapi belikan aku blueberry crumble ne?”

Aigoo, itu kan mahal Hyunwoo­, eum tapi.. baiklah..Kajja!”

Hyunwoo tersenyum lebar, yeay blueberry crumble!

—–

Greb!

Badan Jieun tereasa membeku beberapa saat. Ia tahu, sangat tahu malah wangi maskulin khas orang itu.

“Hyunwoo-yawae?” Jieun mencoba melepaskan rengkuhan Hyunwoo. Rengkuhan dari belakang yang menghangatkan.

Jieun merasa pipinya mulai memanas. Semakin memanas, lalu terbentuklah rona merah di pipinya.

Hyunwoo menghela nafasnya. “Jieun-ah, aku ingin menjadi pelindungmu juga ingin menjadi sumber tawamu,  karena…”

Jieun berbalik, kini Ia menghadap Hyunwoo, menatap matanya dalam. Mencari sebuah keseriusan di bola mata cokelat Hyunwoo itu.

Hyunwoo menundukkan kepalanya, lalu..Ia kembali menatap mata Jieun, Ia tidak boleh takut seperti ini.

Jieun tidak sabar, Ia ingin mendengar lanjutan kata-kata Hyunwoo.

“karena..aku..mencintaimu,”

Hyunwoo menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk.

Jieun terdiam beberapa saat, lalu menghela nafasnya, “Aku ingin dilindungi olehmu Hyunwoo-ya,”

Hyunwoo masih tidak percaya. ”jinjja? Jadi?..”

Jieun tertawa, lalu berlari kencang.

Yaa! Lee Jieun jangan kabur kau! Ah!” Hyunwoo kini sudah berlari mengejar Jieun.

Ia melihat Gadisnya itu berhenti sesaat, dengan nafas terengah-engah. “Akan kubuat, kau tidak bisa bernafas Lee Jieun!” desis Hyunwoo dengan sebuah smirk terukir di bibirnya.

Ia mendekap Jieun dari belakang. “Kau tidak bisa kabur lagi dariku Schatzi1,”bisik Hyunwoo tepat di telinga Jieun.

Jieun membeku sesaat, Ia melepaskan dekapan Hyunwoo. Hyunwoo masih dengan smirknya, menatap Jieun dalam, lalu mulai mempertipis jarak di antara mereka. Pipi Jieun mulai memerah lagi. Satu langkah lagi, dan…

“Apa yang dilakukan oleh Hyung dan Noona itu?”

Masing-masing dari mereka langsung menjauhkan diri ketika menangkap sosok anak laki-laki yang tak jauh dari mereka.

“hihi, Anio hm..namamu siapa adik kecil?” kata Jieun, lalu mendekat ke arah anak kecil itu dan mencubit pipi tembamnya.

Appo, Noona, Leo imnida,” anak itu mempoutkan bibirnya, lalu kembali tersenyum lebar.

Aigoo, neomu kyeopta,” Jieun membelai rambutnya.

“hem,” Hyunwoo menghampiri mereka, lalu mendeham kecil, dan sedikit menunjukkan tatapan tajam.

Noona, Leo takut, Hyung itu sudah memperlihatkan death glarenya…”

Yaa! Hyunwoo-ya, wae? Kasihan Leo, dia takut karena death glaremu yang terlihat konyol itu!” kata Jieun membela Leo. Leo bersembunyi di balik badan Jieun.

“Siapa suruh mengganggu acara kita dan sekarang malah bermanja-manja denganmu?” Hyunwoo mengerucutkan bibirnya.

Aigoo, Hyunwoo-ya jeongmal! Okay, aku minta maaf. Kajja, ku traktir ice cream!” Jieun terlihat geli dengan tingkah Namjanya itu, sungguh sangat kekanak-kanakan.

“Bisa-bisanya kau begitu Lee Jieun! Ish! Hmm, Tapi, penawaran itu cukup bagus. Kajja!”

“Sebentar, Hyunwoo-ya, ajak Leo juga ya? Kasihan dia, ne? Jebal,” Jieun memperlihatkan aegyonya.

Aisshi, anak ini benar-benar. Bisa-bisanya Ia mendapat perhatian lebih dari Jieun,” geram Hyunwoo, tapi kali ini Ia mencoba sabar. Lalu menghembuskan nafasnya ke atas, membuat poninya sedikit terangkat.

“hm, baiklah,” Hyunwoo menjawab dengan malas. “Kajja!

“Leo, ayo ikut Noona dan Hyung beli ice cream. Mau kan?” tanya Jieun.

“mau, Noona. Tapi, Leo juga mau bertemu Eomma,”

“ah, sembari kita membeli ice cream, kita juga cari Eomma  dan Appa  Leo?” saran Hyunwoo dengan senyum manisnya.

Jieun terkesan untuk beberapa saat. “Nah, betul kata Hyung itu, kita beli ice cream, lalu cari Eomma dan Appa Leo ne?

Nde!”kata Leo bersemangat.

Hyunwoo dan Jieun saling bertatapan, lalu keduanya tersenyum lebar.

Tangan kanan Leo digandeng Hyunwoo, sedangkan tangan kirinya digandeng Jieun. How sweet there are?

Baru beberapa langkah, “Leo!”

“Leo!”

Hyunwoo, Jieun dan juga Leo melihat ke sumber suara itu bersamaan. “Eomma?”kata Leo. Ia berlari menuju perempuan muda, yang memanggilnya dan melambaikan tangannya tadi.

Gandengannya dengan Hyunwoo dan Jieun belum terlepas. Akhirnya, mereka pun ikut berlari, menyeimbangi langkah Leo.

Eomma! Ini Noona dan Hyung yang baik sekali! Tadi, mereka mau mengajak Leo beli ice cream lho Eomma,”

Jieun dan Hyunwoo hanya tersenyum kecil.

Kamsahamnida, Agasshi,” Leo Eomma membungkukkan badannya.

ah, nde. Cheon ma,” kata Jieun sumringah.

Geurae Leo, ayo kita jemput Appa,” ajak Leo Eomma.

Hyung, Noonagomawo. Baik-baik yaa!” Leo menghambur ke arah Jieun dan Hyunwoo.

nde, Leo! Maaf yang tadi ya!” bisik Hyunwoo sambil menepuk pelan punggung Leo.

gwaenchanha Hyung, hihi.”

“Leo!” panggil Eommanya lagi. “kajja! Agasshi Annyeong!

Leo dan Eommanya kini telah menjauh, punggung mereka sudah tak tampak.

“Kalau dilihat-lihat Leo mirip denganmu ya? Sama-sama berambut mangkuk, saat mempout kalian juga mirip haha,” ujar Jieun.

“Begitukah? Tadi kau bilaing Leo kyeopyta, berarti aku juga kyeopta ne?” tanya Hyunwoo manja.

Jieun tersenyum kecil, Aigoo, Namjanya ini…

Mereka kini berjalan bersebelahan. Jieun masih terlihat cangung. Biasanya, Ia tidak pernah secangung ini ketika berjalan dekat Hyunwoo. Aneh! Hyunwoo malah menyelipkan lengannya pada pergelangan tangan Jieun. Menjalarkan rasa hangat di tangan Jieun.

~

AhjusshiIce cream vanillanya satu, kau, apa?” tanya Jieun.

”samakan saja,” sahut Hyunwoo.

“hm, ice cream vanillanya dua Ahjusshi!”

ige,Ahjusshi itu menyerahkan 2 cone ice cream vanilla pada Jieun.

~

“Rasa vanillanya aneh. Hambar Aigoo!,” Rutuk Jieun. Ice cream yang Ia jilat masih tersisa di bibirnya hingga sudut bibirnya.

Hyunwoo tersenyum lebar, lalu membuat sebuah smirk. Di bibirnya sendiri masih tersisa lelehan ice creamnya.

Ia mendekatkan mukanya ke arah Jieun. Mempertipis jaraknya dan Jieun. Ini yang pertama. Maka dari itu Ia tak akan kasar.

Jieun meraskan ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Bibir Hyunwoo sudah menyapu bibirnya. Jieun terlihat salah tingkah sekarang. Lalu, Ia memejamkan matanya—menikmatinya mungkin?

Hyunwoo melepaskan first kissnya itu. Ia tersenyum senang melihat Jieun yang terlihat menikmatinya..

Jieun menatap Hyunwoo sekilas, Aigoo, namja itu sedang senyum meledek. Ia yakin, mukanya sudah memerah sekarang. Aigoo.

Ia menjilat sisa ice cream di mulutnya tersebut. Tadi.. Ia bilang rasanya tidak terlalu manis bukan? Namun.. yang ia rasakan sekarang ice creamnya itu terasa begitu manis.. Apa mungkin bibir Hyunwoo? Omo.

~

Schatzi, kau terlihat sangat menikmatinya lho..” kata Hyunwoo meledek. Ia yakin, sebentar lagi rona merah akan muncul lagi dari pipi bersih Jieun. Dan, Ia sangat suka dengan rona merahnya itu. Ia sendiri juga tidak tahu mengapa.

Benar, mukanya merah padam kini“Aigoo, stop jangan membahas itu lagi! Kenapa terus memanggilku dengan panggilan seperti itu?”

Schatzi, kita ini sudah berpacaran. Wajar jika ku punya panggilan khusus padamu, Tidak ada kan namja lain yang memanggilmu ‘Schatzi’?”

Jieun tidak menjawab dengan suara, namun hatinya mengiyakan.

“ Hyunwoo-ya..,” Jieun menyenderkan kepalanya ke pundak Hyunwoo. Ia sendiri juga tidka tahu mendapat kebaranian dari mana. “Kau tidak mau berganti model rambut mangkukmu?”

Hyunwoo tersenyum lebar dengan sikap  Jieun ini. “Memangnya kenapa? Aneh ya?”

A-Anio, hehe.” Jieun jadi lupa ingin bicara apa.

—–

Hari ini adalah Reuni Sekolah Jieun.

Jieun mengajak Hyunwoo untuk datang, namun sampai saat ini batang hidung laki-laki berambut mangkuk itu belum terlihat. Aish.

“Kai?!” panggil Jieun tak yakin, ketika melihat sosok yang sangat-sangat Ia rindukan itu.

“Jieun-ah?” tanya Kai. Ia berjalan cepat menuju Jieun, lalu memeluknya erat. “bogoshipeo,”

Jieun tersenyum tipis, “nado Kai!”

Lalu, mereka melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar. “Bagaimana  Jepang?” tanya Jieun masih dengan senyum sumringah.

“Disana menyenangkan, yeah. Nanti, ke rumahku ne? Aku bawa oleh-oleh untuk sahabatku yang paling aneh ini,” kata Kai, lalu mencubit pipi Jieun.

Yaa! Hm, Bagaimana hubunganmu dengan Shin Nayoung?”

“Baik, kami masih berhubungan dengan baik. Rencananya dalam waktu dekat aku akan melamarnya,”

“Kyaa~ Chukhahae!” kata Jieun senang.

“Kau sendiri bagaimana? Adakah namja yang mau mendekati gadis aneh sepertimu?” ledek Kai.

yeu, jangan menghinaku Tuan Kim—–“

“Jieun-ah!

Jieun dan Kai serempak melihat ke sumber suara itu.

“Hyunwoo-ya?”

Hyunwoo terlihat begitu manly dengan potongan rambut barunya.

Jieun membeku, mulutnya setengah menganga, terpesona mungkin?

Schatzi, jangan seperti ini, memalukan kau tahu? Kalau terpesona denganku jangan sampai menganga seperti itu! Yaa! Kalau tidak cium nih,” kata Hyunwoo menggoda Gadisnya.

“hah? Andwae Lee Hyunwoo!” geram Jieun, ia sebal dengan Hyunwoo yang selalu menggodanya itu.

Hyunwoo terkekeh kecil.

“Ohya! Kai, ini Lee Hyunwoo, namjachinguku. Hyunwoo-ya, ini Kai sahabatku sejak kecil, Ia baru pulang dari Jepang,”

Hyunwoo dan Kai bertatapan, lalu tersenyum lebar. “Kim Jong-In, panggil saja Kai,”

“ah! Lee Hyunwoo,” mereka pun berjabat tangan.

“Hyunwoo-ssi, Jieun-ah! Aku ke dalam dulu ya, Nayoung bilang dia sudah di dalam. Annyeong!

Sebelum Kai benar-benar masuk ke dalam, Ia berbisik pada Hyunwoo “jaga Jieun baik-baik bro!”

Hyunwoo mengacungkan jempolnya.

Lalu, Kai pun berlalu.

“Kau.. kenapa berganti gaya rambut?” tanya Jieun.

“memangnya kenapa? Tampan bukan?” tanya Hyunwoo narsis.

“yeu, bukan begitu. Ah, tapi kuakui kau terlihat lebih tampan dengan potongan rambut seperti itu, hehe,”

“Aku tahu Lee Jieun, kalau tidak tampan. Bagaimana bisa seorang yeoja membeku dengan mulut menganga ketika melihatku? Astaga.” Sindir Hyunwoo jahil.

Muka Jieun kini merah padam. Aigoo, Hyunwoo-ya jeongmal!!

Jieun terlihat mengalihkan pandangannya dari Hyunwoo, Ia merasa pipinya mulai memanas dan Ia yakin sebentar lagi semburat merah akan muncul dari pipinya.

Hyunwoo tertawa melihatnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jieun. Hanya tersisa sedikit ruang di antara mereka.Jieun membulatkan matanya. Jantungnya mulai berdetak tak stabil. Jieun hanya mampu memejamkan matanya.

Beberapa detik kemudian, Jieun kembali membuka matanya.

Ia tidak merasa ada sentuhan mengenai bagian mukanya.

Hyunwoo terkekeh geli “Ini! Ada kotoran matamu hiii~”

Jieun terkaget, Ia kira.. Hyunwoo akan melakukan..itu..

“memangnya kau kira apa Schatzi? Ah, kau tadi sudah memejamkan matamu, kau berpikir aku akan menciummu huh? Astaga, kau ternyata mesum!”

Jieun hanya mampu mendengus kesal.

“Ah, kau benar-benar ingin kucium ya? Baiklah, bersiaplah untuk kehabisan nafas Schatzi,”

Jarak di antara mereka mulai menipis.

YAA! LEE HYUNWOO ANDWAE!

Sayangnya, Hyunwoo sudah mengecup sekilas bibir Jieun.

“Hyunwoo-ya, ini tempat umum kau tahu?”

“Eh?”

Beberapa pasang mata terlihat memperhatikan mereka.

Mianhamnida,” ujar mereka berdua kompak. Dengan rasa malu tentunya.

END

——————————————————

1Panggilan sayang  informal di Germany.

Annyeong! Bagaimana sequelnya? Nai senyum-senyum sendiri masa’ pas bikinnya /apaini/ lol. Yang bagian tengahnya..nai serius bingung banget mau di ceritain gimana, akhirnya diringkas aja(?) Nai cuman dapet ide buat awal dan akhirnya doang haha.Mianhae, kalau tidka sesuai yang diharapkan:{  And please don’t be a silence reader, please leave your comment. Don’t bash, plagiarism, take the idea of nai story. Mianhae also Gomawo *bow

 

Advertisements

7 responses to “The Lee [Sequel of You and I] Oneshot

  1. whaa ikut ngeblush sama Jieun aku x)
    bayangin nae namjachingu; kembaran Hyunwoo ngelakukan itu semua itu.. *fly~
    bwahahaha fluffy + sweet lho saeng, nice as usual 😀

  2. Pingback: Kumpulan Fanfiction IU&EXO (All Fanfiction EXOIU) | w93iu's Blog·

  3. baca yang You&I nya kasian banget Jieun nya galau, tapi pas baca yang ini yaampunnn!! gereget banget Hyunwoo jago bikin orang blushing hahaa ;D
    keep writing yaa 😉

Give y'r naispirit.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s